KegiatanHilir‑Mudik Kekuasaan: Struktur, Ruang Publik, dan Kisah Kader di Cipanas
Pada tulisan kali ini kami membahas Cipanas sebagai wilayah yang secara simbolik sangat dekat dengan pusat kekuasaan lewat keberadaan Istana Cipanas, tetapi tidak otomatis membuat warganya merasa terwakili. Dari situ, tulisan bergerak ke gagasan utama bahwa struktur partai tidak boleh dipahami hanya sebagai hirarki atau alat komando, melainkan sebagai alat negosiasi untuk memperjuangkan kepentingan warga. Dalam pertemuan pengkaderan dengan kader PSI Cipanas, ditekankan bahwa kader bukan sekadar pelaksana, tetapi subjek politik yang punya hak bersuara, hak memahami arah perjuangan, dan kewajiban mendengar keresahan masyarakat. Refleksi ini lalu diikat dengan pemikiran Hannah Arendt tentang ruang publik dan vita activa, bahwa politik hanya bermakna bila ada ruang bersama yang memungkinkan orang berbicara, bertindak, dan hadir secara setara. Dari Cipanas, artikel ini sampai pada satu kesimpulan: keterwakilan tidak lahir hanya karena dekat dengan kekuasaan, tetapi dibangun lewat struktur yang sehat, partisipatif, dan hidup oleh ingatan, harapan, serta perjuangan kolektif kader dan warga