Pasar Gajah dan Cara Sederhana Menghormati Orang yang Bekerja

Pasar Gajah dibuka 3 Mei di Gekbrong bawah dengan 56 kios dan tiga bulan pertama gratis sewa. Sebuah catatan tentang menghormati orang yang bekerja.
Ada banyak cara untuk bekerja
May Day baru saja lewat dua hari yang lalu. Di banyak kota, hari itu ditandai dengan barisan, spanduk, dan tuntutan terhadap upah serta jaminan kerja yang lebih layak. Saya tidak ingin meremehkan itu. Suara buruh formal adalah suara yang harus terus didengar, apalagi di negara di mana hak pekerja masih sering ditempatkan nomor dua setelah keuntungan perusahaan. Tapi setiap kali Hari Buruh datang, saya selalu kembali ke pertanyaan yang sama, bagaimana dengan mereka yang bekerja tapi tidak punya kantor, tidak punya kontrak, tidak punya slip gaji?
Di kawasan kita, jawaban atas pertanyaan itu ada di mana-mana. Ia ada di tangan ibu yang menjajakan sayur sejak subuh. Di pundak pemikul yang menurunkan karung beras dari truk pagi-pagi sekali. Di mata pedagang ikan yang berdiri seharian di belakang meja basah. Di wajah seorang bapak yang menjaga lapak kecil sendirian, menunggu pembeli pertama, sambil menghitung berapa banyak yang harus terjual hari itu supaya dapur bisa nyala besok pagi.
Mereka semua bekerja. Setiap hari. Tanpa BPJS dari perusahaan, tanpa gaji bulanan, tanpa tunjangan apa-apa. Hari Buruh, kalau diartikan dengan jujur, seharusnya juga tentang mereka.
Kawasan Gekbrong sudah lama ramai

Siapa pun yang sering lewat Gekbrong tahu bagaimana padatnya kawasan Pasar Gekbrong di pagi hari. Sejak sebelum subuh, truk-truk barang sudah mulai masuk. Pukul lima, gerobak sudah ditata, lapak sudah dibuka, dan suara tawar-menawar sudah ramai sebelum matahari penuh naik. Sampai siang, jalan di depan pasar lama itu sering menyempit jadi satu lajur saja. Itu pertanda baik. Pasar yang ramai berarti ekonomi rakyat di kawasan ini bergerak, ada uang yang berputar di antara warga, ada keluarga yang menggantungkan hidup pada aktivitas itu. Tidak ada yang salah dengan keramaian. Hanya saja, keramaian punya konsekuensinya sendiri. Pedagang berhimpitan di lapak yang sebenarnya sudah lama tidak cukup. Pembeli kehilangan ruang untuk memilih dengan tenang. Jalan tertahan oleh kendaraan yang menurunkan barang. Yang jadi beban bukan cuma pengguna jalan dari luar tetapi pedagang sendiri ikut terjepit. Kondisi seperti ini, kalau tidak diberi ruang bernapas, lama-lama melelahkan semua orang yang ada di dalamnya.
Pertanyaannya sederhana saja, apa yang bisa dilakukan?
56 kios, dan tiga bulan untuk berdiri

Pasar Gajah dibuka di Gekbrong bawah, hari ini 3 Mei. Letaknya tidak jauh dari Pasar Gekbrong. Bukan untuk menggantikannya. Pasar Gekbrong punya pelanggan, sejarah, dan ekosistemnya sendiri yang harus dihormati. Pasar Gajah hadir sebagai ruang tambahan atau ruang lain di sebelah ruang yang sudah ada. Ada 56 kios. Belum semuanya terisi. Saya tidak akan menutupi itu.
Untuk pedagang yang masuk sekarang, tiga bulan pertama gratis sewa. Saya menyebutnya masa adaptasi. Bukan promo. Bukan diskon. Bukan trik dagang.
Kenapa harus tiga bulan? Karena bulan-bulan pertama pedagang di tempat baru adalah bulan-bulan yang paling rapuh. Itu masa untuk membaca pasar, siapa pembelinya, jam berapa ramai, barang apa yang laku, harga berapa yang masuk akal di sini. Itu masa untuk membangun pelanggan, dari satu orang yang ingat wajah, lalu dua, lalu sepuluh. Kalau dari hari pertama pedagang sudah harus berhitung dengan sewa, banyak yang akan menyerah sebelum sempat tumbuh. Itu kerugian buat semua orang, buat pedagang itu sendiri, buat pasar, buat warga sekitar yang kehilangan satu pilihan tempat belanja.
Tiga bulan ini bukan jaminan untung. Saya tidak punya kuasa untuk menjamin itu, dan saya tidak akan pura-pura punya. Yang bisa saya pastikan adalah tekanan sewa tidak akan jadi alasan utama kalau pun ada yang gagal di awal.
Bukan tandingan, bukan panggung
Saya tahu di kawasan kita yang lagi sering ramai bicara politik, mudah sekali pembukaan pasar seperti ini dibaca sebagai panggung. Sebagai bagian dari kampanye. Sebagai pencitraan. Saya tidak akan menutupinya. Saya punya posisi politik, itu publik, itu bisa dicari di mana saja. Tapi Pasar Gajah bukan kampanye. Pasar Gajah adalah pasar. Lapaknya nyata. Kiosnya nyata. Pedagangnya akan duduk di sana setiap hari dengan dagangan asli. Pembelinya akan datang dengan uang asli. Kalau pasar ini gagal, kerugiannya juga nyata bukan kerugian elektoral, tapi kerugian dapur orang.
Yang dibutuhkan dari sebuah pasar bukan slogan. Yang dibutuhkan adalah ruang yang berfungsi, akses yang adil, dan biaya awal yang masuk akal.
Kalau pun ada makna kecil di balik ini yang ingin saya sampaikan, ia sederhana saja bahwa menghormati orang yang bekerja tidak selalu butuh pidato panjang setahun sekali. Kadang cukup dengan menyediakan tempat. Kadang cukup dengan memberi waktu di awal. Kadang cukup dengan tidak menambah beban di hari pertama mereka memulai.
Pasar tumbuh karena ada yang datang
Pesan terakhir saya bukan untuk pedagang, tapi untuk warga.
Pasar tidak hidup karena lapak. Pasar hidup karena orang datang. Pembeli adalah separuh nyawa pasar mana pun. Tanpa pembeli, lapak yang paling tertata pun hanya akan jadi kotak kosong. Maka kalau Anda warga Gekbrong dan sekitarnya, mampirlah. Tidak perlu rencana besar. Tidak harus belanja banyak. Datang dulu, lihat-lihat, kenalan dengan pedagangnya, beli sayur sekantong, beli ikan sekilo. Kebiasaan kecil seperti itulah yang membuat pasar tumbuh bukan iklan, bukan acara peresmian, bukan pidato.
Saya tidak akan bilang Pasar Gajah pasti berhasil. Pasar mana pun butuh waktu. Kadang berbulan-bulan, kadang bertahun-tahun. Yang bisa saya katakana bahwa hari ini ruangnya kami buka. Hari ini 56 kios sudah berdiri. Hari ini, pedagang yang ingin mulai bisa mulai, tanpa harus langsung dipojokkan oleh sewa di tiga bulan pertama.
Mari kita lihat bersama bagaimana pasar ini akan tumbuh. Pelan-pelan. Dari hari ke hari, dari pedagang ke pedagang, dari pelanggan ke pelanggan. Karena itulah, sebenarnya, cara paling sederhana untuk menghormati orang yang bekerja, bukan dengan ucapan indah satu hari sekali, tapi dengan ruang yang bisa mereka tempati setiap hari.
Pasar Gajah. Gekbrong bawah. Mulai 3 Mei. Pintunya terbuka.