Empat Kecamatan, Satu Jalan yang Bertanya

Akhir pekan perjalanan kami jadi potret kecil wajah Cianjur yang beragam.
Akhir pekan ini, perjalanan terasa seperti membuka peta yang disimpan terlalu lama di laci. Sabtu saya bergerak ke Cibeber dan Minggu badan masih menanggung sisa jalan ketika roda diarahkan lagi ke Naringgul, Pasirkuda, lalu Cikadu. Empat nama itu berdekatan dalam administrasi, tetapi di lapangan masing-masing mempunyai suhu, ritme, dan cara sendiri dalam menagih perhatian. Ada tempat yang bicara lewat kerapian barisan. Ada yang bicara lewat jurang, kabut, dan jalan yang sewaktu-waktu diputus longsor. Ada pula yang bicara lewat pertanyaan tajam, seperti orang yang sudah terlalu lama melihat janji lewat di atas aspal berlubang.
🏞️ Cibeber

Di Cibeber, saya tidak perlu mencari-cari tanda. Energinya terasa sejak pertemuan belum benar-benar dimulai, orang datang tidak sekadar hadir, dan percakapan bergerak cepat dari kabar pribadi ke urusan organisasi. Ada jenis kekuatan yang tidak berisik di sana. Bukan euforia, tetapi kohesi. Kader PSI Cibeber tampak memahami bahwa struktur bukan papan nama, melainkan kebiasaan untuk saling mengingatkan tentang tujuan dan cita-cita selama berpartai
Cibeber juga tidak berdiri di ruang kosong. DPMPTSP Kabupaten Cianjur menempatkan Cibeber dalam peta pertanian penting, dari wilayah padi Pandanwangi sampai padi sawah beririgasi pedesaan. Fakta semacam ini membuat saya melihat konsolidasi di sana dengan cara lain. Di wilayah yang hidup dari tanah, pengairan, dan musim, organisasi yang solid tidak bisa hanya dibangun dengan poster. Ia harus menyerupai irigasi yakni bekerja diam-diam, mengalir, dan baru terasa penting ketika macet.
Namun Cibeber bukan romantika tentang desa yang rukun. Justru karena kuat, ia menuntut kedewasaan. Struktur yang kohesif bisa menjadi ruang saling percaya, tetapi juga bisa berubah menjadi kebiasaan saling mengiyakan jika tidak dirawat dengan kritik.
Di sana saya belajar bahwa soliditas bukan akhir dari pekerjaan politik. Ia baru permulaan. Terimakasih Cibeber!
Minggu membawa suasana lain. Naringgul dan Pasirkuda seperti satu napas panjang Cianjur selatan dengan konfigurasi hijau yang lebar, udara yang berubah-ubah, dan jarak yang tidak sepenuhnya bisa dihitung dengan kilometer. Dokumen RKPD Kabupaten Cianjur 2026, memakai data 2024, mencatat Naringgul seluas 287,63 km², sementara Pasirkuda 105,17 km². Angka itu kelihatan rapi di tabel. Di jalan, ia menjadi tikungan, tanjakan, waktu tempuh, dan percakapan yang tertunda karena sinyal hilang.
🌫️ Naringgul

Naringgul punya cara sendiri untuk mengingatkan orang kota bahwa akses bukan hanya soal ada atau tidak ada jalan. Sebagai kecamatan terluas kedua di Kabupaten Cianjur yakni sekitar 281 kilometer persegi, hampir dua kali ukuran Kota Bandung dengan kepadatan terendah di kabupaten ini, di angka seratusan jiwa per kilometer persegi menurut catatan BPS terbaru.
Jika Anda berdiri di tepi jalan Naringgul saat pagi belum pecah, Anda akan menyaksikan sesuatu yang ironis lanskap raksasa, hutan dingin, suara curug yang jauh, dan hanya beberapa orang yang lewat. Wilayahnya mewah, penghuninya sedikit, dan pemerintah akan datang paling akhir. Bagi warga, itu bisa berarti komoditas terlambat keluar, anak sekolah memutar lebih jauh, atau keluarga menunda urusan yang mestinya selesai hari itu juga karena persoalan wilayah yang luas dan kesejahteraan yang tidak berimbang
Di antara lanskap semacam itu, solidaritas warga terasa rapat. Bukan sebagai slogan, tetapi sebagai teknik bertahan. Orang saling memberi kabar tentang jalan, cuaca, kendaraan, acara keluarga, dan urusan kampung. Saya melihat semacam sauyunan yang tidak perlu dipamerkan. Ia sudah menjadi cara bergerak.
💧 Pasirkuda

Pasirkuda memperpanjang napas itu, tetapi dengan aksen yang berbeda. Di sana, keindahan alam hampir terlalu mudah dijadikan kalimat promosi. Curug Citambur, menurut DPMPTSP Cianjur, berada di Desa Karangjaya, Pasirkuda, dengan ketinggian sekitar 130 meter. Angka itu menarik bagi brosur. Tetapi di lapangan, air terjun setinggi itu tidak otomatis menjawab pertanyaan warga tentang akses, pengelolaan, dan siapa yang paling banyak menikmati nilai ekonominya.
Dua tahun lalu, jalur menuju kawasan ini disebut warga sebagai "jalan neraka". Lalu sebuah rumah sederhana di kebun yang dijuluki Rumah Abah Jajang viral di media sosial. Tidak lama setelah itu, Pemerintah Kabupaten merogoh kira-kira lima puluh miliar rupiah untuk membangun tujuh belas kilometer cor beton, rampung awal 2024.
Saya menyusuri jalan baru itu dan tidak tahu harus merasakan apa. Senang? Tentu, warga akhirnya bisa membawa hasil bumi keluar tanpa patah as roda. Tetapi saya juga tidak bisa berpura-pura tidak melihat logika di belakangnya. Pasirkuda memiliki air terjun seratus tiga puluh meter sejak ribuan tahun, ia memiliki kebun-kebun aren dan teh sejak ratusan tahun, ia memiliki manusia yang tinggal di sana sepanjang ingatan. Yang membuat jalan akhirnya datang bukanlah salah satu dari semua itu. Yang membuat jalan datang adalah algoritma.
Saya mencoba merumuskan pertanyaan yang adil, Apakah salah jalan dibangun karena viral? Tentu tidak. Tetapi apakah negara yang baru hadir setelah viral adalah negara yang bekerja menurut peta yang benar? Itu pertanyaan lain.
Keindahan tidak selalu berarti keberpihakan. Namun, saya tidak ingin menulis Naringgul dan Pasirkuda sebagai wilayah indah yang kasihan. Cara pandang semacam itu malas dan berbahaya. Warga di sana tidak membutuhkan tatapan terharu dari pusat kabupaten. Mereka membutuhkan kebijakan yang mengakui bahwa perbatasan bukan halaman belakang, melainkan beranda lain dari Cianjur. Di perbatasan, orang justru sering lebih cepat membaca negara dari jalan yang dirawat, jembatan yang kuat, sekolah yang mudah dicapai, dan puskesmas yang tidak terasa seperti tujuan jauh.
Lalu beranjak ke Cikadu.
Di Cikadu, percakapan berubah nada. Pertanyaan kader lebih tajam, lebih langsung, dan kadang tidak memberi ruang bagi jawaban yang terlalu umum. Saya menangkap sikap kritis yang bukan dibuat-buat. Mereka bertanya seperti orang yang tahu bahwa kalimat manis tidak bisa menutup lubang jalan. Di tempat lain, struktur sering dibicarakan sebagai barisan. Di Cikadu, struktur diuji sebagai keberanian untuk menjawab.
🔥 Cikadu

Ada latar yang tidak bisa diabaikan, seperti yang kemudian saya ingat cikadu bukan kecamatan biasa. Ia kecamatan muda pemekaran dari Cibinong tahun 2001 tetapi lanskapnya adalah lanskap tua. Pada 1991, lewat surat usulan Gubernur Jawa Barat, sebagian wilayah ini ditetapkan sebagai unit permukiman transmigrasi lokal Koleberes, di atas eks-perkebunan teh kolonial pada 9 November 1999, dengan lahan permukiman 456,25 hektare.
Saya tidak ingin menjadikannya penjelasan tunggal. Tetapi jejak sejarah semacam itu mungkin membantu membaca mengapa sebagian warga terbiasa bertanya lebih keras, karena mereka hidup di wilayah yang pernah dijadikan proyek penataan sosial, lalu harus berhadapan lagi dengan keterbatasan infrastruktur.
RKPD 2026 mencatat Cikadu seluas 195 km² dengan kepadatan 193 jiwa per km². Di atas kertas, itu tampak seperti wilayah yang lapang. Di lapangan, kelapangan bisa berarti jarak antarkebutuhan yang jauh. Kami pun menyusuri jalan yang rusak parah di setiap sudut pemukiman dan dibiarkan bertahun-tahun. Di situ kritik warga tidak lahir dari kebencian terhadap politik. Ia lahir dari pengalaman yang memang berulang.
Saya teringat wajah-wajah yang menyimak dengan serius. Tidak semua orang berbicara. Tetapi diam mereka bukan kosong. Kadang diam di ruang pertemuan desa lebih keras daripada tepuk tangan di ballroom. Ia memaksa orang yang datang dari luar untuk tidak terlalu cepat menyimpulkan.
🛣️ Refleksi: Satu Jalan yang Bertanya
Empat kecamatan ini akhirnya tidak memberi saya satu kesimpulan sederhana.
- Cibeber menunjukkan bahwa struktur bisa hidup jika ia punya disiplin sosial.
- Naringgul dan Pasirkuda menunjukkan bahwa solidaritas warga sering lebih cepat daripada perhatian kebijakan.
- Cikadu menunjukkan bahwa kritik bukan gangguan, melainkan bentuk lain dari kepedulian. Dari sana politik kehilangan bentuknya sebagai pidato besar. Ia kembali menjadi urusan jalan, panen, akses, sejarah, dan keberanian warga untuk bertanya.
Mungkin masalah utama politik lokal hari ini bukan karena warga terlalu jauh dari gagasan besar. Justru sebaliknya bahwa gagasan besar terlalu sering jauh dari warga. Di pusat, orang mudah bicara pemerataan, pembangunan, partisipasi, dan masa depan daerah. Di lapangan, kata-kata itu harus melewati jalan berbatu, ruang pertemuan sederhana, wajah lelah, dan pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan kalimat template.
Saya pulang dari Cikadu dengan dengan rasa yang sulit saya beri nama. Bukan kemarahan, namun ada lega karena pertemuan dan ada gelisah karena pertemuan tidak cukup. Jalan pulang membuat semua gambar akhir pekan itu bertumpuk. Cibeber yang teratur, Naringgul yang luas, Pasirkuda yang Indah, Cikadu yang kritis. Di kaca kendaraan, senja hanya lewat sebentar, lalu gelap mengambil alih jalan.
Senin pagi, saya melipat peta. Tanda spidol merah di atas Cikadu, kalau diperhatikan dari jarak dekat, sebenarnya sedikit basah entah karena rintik kemarin, atau karena sesuatu yang lain. Namun Cikadu harus tetap kritis, terhadap siapapun yang datang dan peduli.
Saya tidak akan menutup catatan ini dengan jawaban karena akan sangat lama menjawabnya dan yang saya bawa pulang ke Cianjur kota adalah pertanyaan yang dipinjamkan kader Cikadu kepada saya.
"Apakah yang disebut pusat masih mau mendengar suara dari tikungan paling jauh dan akses yang terbatas?"